Martina Felesia
Waktu kecil gudiken is my hobby.  Gudiken itu adalah kondisi bekas luka yang sering digaruk-garuk dan akhirnya menjadi tato seumur hidup.  Saking banyaknya sampai aku  menyebutnya gudik.  Seingatku, dengkul ini tidak pernah berjedah untuk tidak terluka.  Entah karena jatuh, entah karena nabrak sesuatu dan lain-lain.  Yang jelas untuk urusan luka meluka itu aku jagonya.  Dan sampai hari ini aku masih sering takjub dengan diri sendiri: apakah bener aku selasak itu?

Bicara masalah gudik (bekas luka), tidak afdol rasanya jika tidak bicara mengenai asal muasal bagaimana luka itu bisa terbentuk.  Setiap luka pasti punya ceritanya sendiri-sendiri.  Punya kenangannya sendiri-sendiri.  Dan yang pasti, punya penyebabnya masing-masing.

Luka di tungkai kaki kananku contohnya.  Luka berbentuk sayatan itu adalah luka yang kudapatkan waktu berlibur ke desa nenekku.  Suatu hari aku ikut pakde ke pasar naik sepeda onthel jaman old.  Kalau tidak salah waktu itu aku kelas empat atau lima SD.  Pulang dari pasar, saking asyiknya berimajinasi saat melewati pematang sawah, kakiku masuk ke sela-sela roda sepeda.  Dan hasilnya ya demikian.  Kakiku punya tato.  Luka tersebut berhasil membuatku absen tidak masuk sekolah selama berhari-hari.

Kadang aku berpikir, jika luka fisik meninggalkan bekas, bagaimana dengan luka batin?  Orang yang terluka hati dan jiwanya sudah pasti tidak nampak bekasnya.  Tapi bisa jadi berdampak luar biasa.  Ia memang tidak kelihatan.  Tetapi menimbulkan rasa sakit tak bertepian.  Luka karena dimaki, difitnah, di'bully', diselingkuhi, di 'php' ni dan lain-lain, adalah contoh penyebab luka batiniah.  Tidak butuh asal muasal dan penjelasan berjilid-jilid, semua itu sudah pasti menimbulkan rasa sakit dan kecewa.  Apalagi jika semua luka itu datangnya dari orang2 terdekat kita.  Orang2 yang kita percaya.

Kembali lagi ke masalah gudiken tadi.  Ternyata kelasakanku waktu kecil menurun juga ke anak-anak.  Bagi si Bungsu tiada hari tanpa luka di kakinya.  Melihatnya seperti melihat diriku di waktu kecil.  Asek nak jatoh aje.  Ujung2nya segala luka akibat jatuh pun digaruk-garuk dan jadi gudik.  Sungguh membosankan dan menyedihkan. Tapi ya mau bagaimana lagi. Segala macam kelasakan ini toh pada akhirnya akan berhenti sendiri.  Jika dia tidak pernah jatuh, bagaimana bisa bercerita kalau jatuh itu tidak enak?  Apa yang bisa diceritakan kelak saat beranjak tua?  Minimal dengan sering terjatuh, aku, anakku, bisa belajar bahwa segala luka itu bisa disembuhkan.  Gudik bisa sembuh dengan obat yang tepat dan penanganan yang cepat.  Luka batin bisa disembuhkan dengan kata maaf dan pengampunan.

Tanpa penanganan yang tepat, semua luka itu, baik luka fisik maupun batiniah, hanya akan menjadi borok tak berkesudahan.  Akan menggerogoti setiap bentuk keindahan dan kebahagiaan dalam kehidupan.  Meninggalkan bekas seperti tato yang susah hilang.  Jadi, jangan pernah malu untuk bangkit dan sembuh, meskipun telah terluka.  Tak peduli apa pun bentuknya.
Martina Felesia
Waktu kecil cita-cita saya cuman satu: punya perpustakaan gede yang berisi buku2 kesukaan saya.  Tidak pernah terpikirkan bahwa ternyata untuk punya perpustakaan seperti itu membutuhkan modal yang ternyata tidak sedikit jumlahnya.  Terus, karena kelihatannya sulit untuk terwujud, akhirnya saya berbelok haluan dan mengganti cita2 tersebut.  Saya kemudian bercita-cita jadi penulis.  Penulis ya, bukan juru tulis!  Maksudnya saya pengin jadi pengarang dan minimal bisa punya buku hasil karya sendiri atau semacam itulah.

Tapi ternyata cita2 itu juga harus kandas di tengah jalan.  Sekali lagi, karena terbentur masalah finansial, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja.  Tujuannya sudah pasti: mendapat penghasilan sendiri dan berharap bisa mengumpulkan buku sedikit demi sedikit.  Selain itu saya juga bisa ikut berkontribusi dalam urusan finansial keluarga, meskipun tidak seberapa.  Sembari bekerja, sebenarnya saya ingin melanjutkan sekolah.  Tapi kok ternyata yang namanya 'uang' lebih menyilaukan daripada keinginan untuk meluangkan waktu memeras otak dan pikiran.  Dan sesudahnya, saya masih juga terlena dan terjebak dengan urusan pekerjaan.

Kalau dipikir-pikir, cita2 saya sekarang ini sebenarnya sederhana saja.  Saya ingin jadi orang yang bahagia.  Bahagia dalam arti saya memang tidak pengin apa2 lagi.  Suer.  Di saat orang lain ingin bergaya dengan rumah, aksesoris, perhiasan atau pamer kekayaan, saya kok lebih cenderung ingin mengosongkan rumah.  Sembilan belas tahun menikah tidak mengubah niat saya untuk tidak memiliki perabot rumah tangga.  No kursi, no 'bupet', no dipan dan no no yang lainnya.  Bukan sok gaya atau apa, tapi saya memang tidak mau rumah saya terlalu penuh dengan berbagai macam perabotan.  Nyemak!  Lagipula sejak awal saya sudah bilang sama pak Suami, saya malas kalau disuruh bersih2.  Jadi saya mau rumah dalam keadaan lapang dan tanpa berbatas sekat.  Harus bebas.  Harus lega.

Kalau diperhatikan dengan lebih seksama di rumah ini, hanya ada rak buku sederhana yang sepertinya sudah harus dipermak, karena sudah terlalu lama berdiam di sudut rumah.  Ya wajarlah kalau minta diperbaiki, lha wong itu dulu juga dapat dikasih seorang teman yang kelebihan muatan sehabis ikut pameran.  Nggak punya perabotan saja ribet apalagi punya!

O ya, kembali kepada cita2, selain jadi orang yang bahagia saya juga pengin banyak2 berbuat baik.  Kalau dulu saya lebih cenderung kepada teori2, sekarang ini sepertinya saya lebih menuju ke masalah hati.  Berbuat baik selagi masih sempat.  Belajar menghargai dan menghormati orang lain.  Belajar memanusiakan manusia lainnya.  Ya, itu memang cita2 saya sekarang.  Sulit terwujudkan?  Sudah pasti!  Tetapi, minimal saya sudah mencita-citakannya dan sedikit banyak punya niat untuk mewujudkannya.
Martina Felesia
Dulu, waktu di zaman saya kanak-kanak, jika ada manusia yang mbelingnya minta ampun, biasanya dia akan dipanggil 'Korak' singkatan dari kotoran rakyat.  Saya ingat ciri2 manusia Korak ini antara lain suka cari masalah, mau menang sendiri dan berani apa saja tanpa ada dasar.  Sing penting berani.  Urusannya benar atau salah sing penting wani sik!  Kalau zaman sekarang orang2 seperti ini lebih cocok disebut dengan manusia sampah.

Manusia sampah menurutku adalah manusia yang suka berbicara tanpa dasar.  Manusia2 sampah ini bisa terlihat dengan kasat mata ada di sekitar kita.  Mereka suka mencela, suka memfitnah, suka bergosip, suka memutarbalikkan fakta, tanpa ada dasar apalagi menggunakan data.  Mereka menganggap wajar2 saja menyebarkan berita bohong dan fitnah kepada orang lain yang tidak seide dengan dirinya.   Merupakan hal yang biasa untuk membicarakan orang lain, tanpa perlu berkaca apakah diri sendiri sedemikian juga adanya.

Ada seorang teman, banyak teman, yang bahkan dengan mudahnya mengatakan orang lain itu adalah komunis karena tidak seide dengan dirinya.  Ketika saya tanyakan apa arti komunis dia menjawab dengan bodohnya bahwa orang komunis itu adalah orang yang tidak mengenal Tuhan.  Sudah pasti orang yang tidak mengenal Tuhan itu orang jahat, meskipun sebenarnya hanya tidak sependapat dengannya.  Woiii......membedakan komunis dan atheis saja tidak bisa bagaimana bisa menghakimi orang lain sebagai bagian dari komunis???

Kalau dulu manusia sampah ini hanya menyasar kepada orang2 yang notabene mungkin bermasalah dalam hidupnya, keluarga broken home atau mereka yang tidak memiliki kesempatan menjadi baik dalam hidupnya, sekarang ini beda lagi.  Untuk menjadi manusia sampah tidak perlu lagi berpendidikan menengah ke bawah atau tidak pernah bersekolah.  Level menengah ke atas pun, yang sekolahnya tinggi2 sampai level luar negeri pun, bisa dengan mudah menjadi manusia sampah.  Teknologi informasi yang diharapkan menjadikan  manusia semakin baik, pintar dan berkembang, ternyata malah dipakai untuk menjerumuskan.  Bukannya berbagi kebaikan, malah berbagi kebohongan dan kebencian.

Coba perhatikan orang2 di sekitar kita.  Adakah yang tipe2 demikian?  Manusia yang hari2nya selalu dipenuhi dengan rasa iri hati dan benci.  Manusia2 yang punya kuota hanya sekolam tapi berlagak punya kuota selautan?  Suka berbagi berita kebencian tanpa perlu mengonfirmasi.  Semua berdasarkan 'katanya' saja.  Yang penting saya benci kepadanya, saya tidak suka kepadanya, jadi saya harus menyebarkan tentang keburukannya.  Kalau ternyata tidak ada hal buruk yang saya temukan, harus berusaha lagi dengan berbagai macam cara supaya lawan terlihat buruk, itu saja.

Ah, mengikuti perkembangan yang terjadi akhir2 ini menjadikan saya geli sekaligus punya niat untuk semakin mawas diri.  Harus berhati-hati dan tidak gegabah dalam berelasi dengan orang lain.  Harus menghormati dan menghargai orang lain.  Kalau baik katakan bahwa ia baik.  Kalau buruk katakan juga kalau ia buruk.  Jangan dibalik-balik.  Yang baik dilecehkan dan dianggap buruk, sementara yang jelas buruk dan berwatak begal dipuja puji dan diberitakan sebagai sumber segala kebaikan. Itu kampret namanya.  Kebanyakan tidur kebalik jadi otaknya ikut kebalik-balik.

Saya, meskipun hanya manusia biasa2 saja, minimal saya akan berusaha untuk tidak menjadi bagian dari manusia sampah.  Karena cita2 saya hanya satu:  menjadi manusia yang bahagia!
Martina Felesia
Saya selalu suka nonton film Upin dan Ipin.  Film animasi anak-anak dari Malaysia ini mengajarkan banyak hal kepada saya, tentang nilai2 hidup, yang pada dasarnya dulu, waktu kanak2, pernah saya rasakan dan alami.  Nilai-nilai yang mengajarkan tentang cinta terhadap sesama, dalam keluarga, dalam berteman, dalam bermasyarakat dan dalam bernegara.  Nilai-nilai yang mengajarkan tentang penghargaan, rasa hormat dan toleransi kepada mereka yang berbeda, tanpa melihat suku, agama dan golongan tertentu.

Bukannya mau membanding-bandingkan, tapi kenyataan yang ada sekarang ini membuat saya miris dan sering mencemaskan banyak hal.  Kondisi masyarakat dengan berbagai media sosial yang dipolitisasi, menjadikan relasi dengan siapa pun menjadi terasa penuh curiga dan berselimutkan benci.  Label mayoritas dan minoritas menjadi faktor penentu dalam bermasyarakat.  Bicara apapun, berpendapat apapun, bisa menjadi isu sensitif yang bisa digoreng seenaknya tanpa perlu bicara tentang validnya data dan kebenaran yang ada.  Bahkan beberapa orang yang saya anggap pintar dan berwawasan luas, ternyata bisa dan mau juga menyebarkan berita bohong dan opini yang menyesatkan, hanya karena faktor politik dan perbedaan keyakinan.

Upin dan Ipin seperti mengingatkan saya tentang keluguan dan kelucuan masa kecil, tanpa diembel-embeli label agama ataupun suku yang berbeda.  Bagaimana Upin dan Ipin memberikan ucapan selamat Hari Raya kepada uncle Mutu atau kepada Meimei tanpa takut dicap haram dan berdosa. Bagaimana Upin, Ipin dan kawan-kawannya senantiasa bermain, bergembira dan merayakan banyak hal, tanpa takut atau bahkan ditakut-takuti bakal masuk surga atau neraka.  Indah?  Tentu saja.  Sementara di sini, di negara yang saya cintai, tiba2 saja ada begitu banyak orang, yang mendadak merasa kudus dan suci, dengan melarang mengucapkan selamat Hari Raya kepada orang yang berbeda karena dikuatirkan masuk surga atau neraka.  Sebuah ironi yang menyedihkan.  Dan di tanah rantau ini, saya menemukan ada banyak orang yang demikian.

Saya agak terhibur waktu pulang kampung bulan Desember kemarin.  Di tengah-tengah kemunduran jati diri anak bangsa dalam menemukan nila-nilai hidupnya, ternyata kampung saya tidak banyak berubah.  Rumah orangtua saya masih dipenuhi oleh para tetangga yang ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal.  Sanak saudara yang berbeda keyakinan pun menyempatkan diri datang ke rumah.  Ikut bergembira bersama kami sekeluarga, meskipun berbeda dalam keyakinan dan iman.  Indah?  Tentu saja.  Dan itulah yang ingin saya tunjukkan dan ajarkan kepada anak-anak saya.

Bercermin dari Upin dan Ipin, selalu saya tekankan kepada anak2, bahwa cinta kasih kepada sesama adalah segala-galanya.  Mengaku mencintai Tuhan tapi tidak mencintai sesama adalah kebohongan.  Mengaku dekat dengan Allah tapi membenci sesama adalah kemunafikan.  Senantiasalah membantu dan menolong tanpa sekat-sekat.  Mencintai tanpa batas, supaya bisa menjadi manusia yang bebas merdeka dan hidup bahagia.  Jika hidup bisa berulang, tetaplah menjadi orang baik, tanpa takut embel2 masuk surga atau neraka. Karena surga dan neraka, hanya bisa ditentukan oleh Dia Sang Pemilik Hidup, bukan oleh segelintir manusia pongah.
Martina Felesia
Jumat itu adalah salah satu hari yang paling mengangenkan sekaligus menjemukan.  Dikangenkan karena pada hari Jumatlah kami, aku dan beberapa teman kantor punya kesempatan untuk melalak-lalak ke mall meskipun hanya untuk sekian menit.  Tidak sampai satu setengah jam, tapi semangat kegembiraannya sungguh luar biasa.  Rasanya lepas bebas, seperti anak kuda yang baru lepas dari kandangnya.  Menjemukan karena Jumat menjadi hari kerja yang paling tanggung di kantor.  Kalau hari-hari biasa pulang jam 5 sore, hari Jumat dimolorkan lagi menjadi jam 5.30 sore.  Serba nanggung dan serba terlalu lama rasanya.  Menunggu datangnya jam 5.30 sore itu loh yang ampun dijelah rasanya.  Lamaaaaaa.......banget.  Kalau detik jam bisa dicepetin, pasti bakalan tak cepetin.  

Halalbihalal di Kepri Mall

Jalan di mall, makan siang bersama disertai sedikit gosipan dan obrolan ngalor-ngidul, minimal menjadikan kami sedikit lebih fresh.  Bercanda, ketawa ketiwi sampai terbahak-bahak keluar air mata menjadi suatu hal yang manusiawi.  Ini seperti sebuah pernyataan tak langsung bahwa kami ini kurang hiburan mungkin.  Padahal sih emang iya 😋😋

Padahal ya, kalau mau jujur, nggak setiap Jumat loh dompet kami berisi.  Berisi sih mungkin iya, isi bon dan nota tagihan.  Tapi berisi lembaran merah dan biru itulah yang belum tentu.  Tapi karena niat yang teguh dan kesungguhan untuk tetap bisa keluar dari lingkup kantor yang membosankan, menjadikan kami emak-emak bonek.  Nggak ada mobil kantor ya menghilang pakai mercy warna biru-biru atau merah yang biasa lalu lalang dekat kantor.  Cuman bayar Rp6.000 PP sudah sampai pula ke tempat tujuan dengan kecepatan ala Schumacher.  

Di mall pun kayaknya nggak cetar2 amat juga. Bisa dilihat dari kode penampakkannya pas pesan makanan.  Kalau tanggal muda tak satupun yang menengok harga.  Kalau tanggal tua semua berebut melihat daftar menu mana yang menawarkan potongan alias promo.  Dan kalau mau jujur lagi, mau tanggal tua mau tanggal muda nggak ada bedanya.  Tetap ke mall, cari diskonan dan hepi2 sampai waktunya kembali ke kantor lagi.

Jumat, selalu punya cerita.  Tentang kebaikan, tentang keburukan.  Tentang ketulusan, tentang kemunafikan.  Tentang kerendahatian, tentang kesombongan.  Itu adalah salah satu hari, di mana aku bisa belajar tentang hidup.  Belajar mengenal orang2 di sekitar.  Membaca setiap perwatakan tanpa ketara.  Bahwa yang tampak di muka belum tentu seperti yang tersimpan sejatinya.  Bahwa yang terlihat di luar, tidak menjamin seperti itu pulalah di dalam.  Tawa, cerita, adalah sebagian dari pelengkap penderita, di mana engkau bisa mempelajari karakter seseorang sebagai bahan pembelajaran diri sendiri.  Dan bisa jadi, hari Jumat akan tetap menjadi hari yang mengangenkan sekaligus menjemukan, sampai suatu hari nanti, aku tidak bisa menikmatinya lagi.
Martina Felesia
Bagi saya, kepercayaan itu sangat penting.  Ketika orang lain percaya kepada saya, sebisa mungkin saya akan berjuang untuk menjaga kepercayaan itu.  Begitu juga sebaliknya.  Ketika saya percaya kepada orang lain, itu artinya saya juga punya harapan, bahwa orang tersebut memang sungguh bisa saya percaya.

Meskipun demikian, saya tidak suka memaksakan diri supaya orang lain percaya kepada saya.  Ketika dengan segala upaya saya merasa telah berusaha menunjukkan diri sebagai pribadi yang bisa dipercaya dan ternyata orang tersebut tetap tidak percaya ya mau apalagi.  Bagi saya bodoh sekali jika saya tetap memaksakan diri supaya orang itu menaruh kepercayaan kepada saya sementara pada kenyataannya tidaklah demikian adanya.
 
Menilik kejadian yang terjadi dan menimpa hidup saya akhir-akhir ini, ada satu hal yang bisa saya pelajari.  Bahwa tidak semua yang bermulut manis, bertampang menarik, bertutur kata sopan, lemah lembut dan penuh dengan 'drama' itu adalah orang yang bisa dipercaya.  Pengalaman membuktikan bahwa orang-orang yang demikian ternyata hobinya menikam dari belakang.  Di depan kita manis tapi di belakang kita menghunus pedang.  Kalau pas kena, aduh, sakitnya sungguh luar biasa.
 
Bagi saya, semua pengalaman, akan saya jadikan pelajaran.  Jangan mudah percaya terhadap seseorang!  Ketika engkau terlalu berharap dan hasilnya di luar dugaan, semua itu akan sungguh menyakitkan.  Terkadang, seseorang yang kau anggap musuh, mungkin lebih bisa menghargaimu daripada orang yang kau anggap teman! Seseorang yang kau anggap teman bisa jadi adalah orang pertama yang ingin mematikan hidupmu!  So, be careful!
 
Apakah saya sakit hati?  Jelas! Apakah saya menyerah?  Tentu saja tidak.  Hidup harus tetap berjalan.  Sakit hati tidak akan menyelesaikan persoalan.  Mungkin akan ada proses 'mengenali' lebih dalam siapa kawan siapa lawan.  Belajar untuk menerima segala kepahitan dengan hati yang lapang dada meskipun susahnya luar biasa.

Dalam hal ini, saya ucapkan terima kasih kepada semua orang, yang membuat saya makin menyadari bahwa kepercayaan itu mahal.  Yang membuat saya semakin bisa memahami bahwa tidak semua kebaikan itu adalah kebaikan. 
Martina Felesia
Sudah hampir tiga minggu ini ada yang nggak beres dengan kepala dan leher saya.  Rasanya sakit banget.  Kalau orang Jawa Timur bilang suakiiiiittt banget.  Dipakai noleh ke kanan sakit, dipakai noleh ke kiri apalgi.  Sudah tiga kali ganti dokter diagnosanya sama saja.  Salah posisi tidur!  Boso londonya 'kecethit".

"Pernah jatuh?" tanya pak dokter.

"Belum! Eh, tidak pernah!" saya menjawab sekaligus mengoreksi.

"Ooooo.." Ureg-ureg resep.

 "Sudah dok? Gitu saja?" saya bertanya setengah takjub.

"Pergi ambil obatnya di apotik ya."

"Oh, ok!" saya pun ngeloyor keluar.  Sambil menghafalkan jenis obatnya kok ternyata mirip-mirip juga dengan obat dari dokter sebelumnya.  Jangan-jangan sodaraan nih obat.  Tuh kan, saya mulai melantur.

Pas sakit begini terus terang saya baru sadar pentingnya sehat.  Ini baru sakit leher loh, sudah bikin repot.  Apalagi sakit yang lain.  Kalau bisa saya mohon kepada Tuhan supaya dijauhkan dari penyakit aneh-aneh.  Saya nggak sanggup menanggungnya.  

Sebenarnya, beberapa bulan ini saya sudah merintis gaya hidup sehat dengan ikut olah raga.  Jogging!  Ini jenis olah raga yang murah, meriah, tapi bikin gembira.  Setiap sore sepulang kerja saya ada grup jogging di kantor.  Nggak setiap sore ding, hanya hari Selasa dan Kamis.  Tapi kalau rutin sebenarnya bisa lumayan juga untuk kesehatan.  Minimal badan kita bergerak.  Selain untuk kesehatan juga untuk mengantisipasi melebarnya lemak kemana-mana.  

Gara-gara kecethit kegiatan jogging saya jadi terkendala.  Jangankan jogging.   Bawa kepala sendiri saja rasanya berat sekali.  Habis minum obat nyerinya memang hilang.  Tapi bikin mata jadi ngantuk.  Sementara sudah jelas aturannya:  Dilarang tidur di kantor sengantuk apapun anda! Tersiksa banget pokoknya.  Masak mau ambil MC terus.  Mana mau dokternya ngasih?

Tapi seperti biasa, di balik peliknya masalah yang menimpa akan selalu ada himahnya.  Karena sakit ini, saya jadi lebih bisa mengontrol diri.  Menjaga supaya nggak marah, nggak neriakin anak-anak di rumah, dan nggak kenceng-kenceng lagi ngomongnya.  Orang di kantor hepi, anak-anak di rumah juga hepi.  Everybody is happy!  Saya pun jadi sering-sering menyebut nama Tuhan.  Mengeluh sekaligus mengadu.  Ah....kurang ajarnya saya.  Mencari Tuhan kalau pas kesakitan saja.  

Hari ini, tepat di hari Kartini 21 April 2018, saya tegaskan sekali lagi "Ayo olah raga, rek! Mumpung belum terlambat sama sekali".