Martina Felesia
Bagi saya, kepercayaan itu sangat penting.  Ketika orang lain percaya kepada saya, sebisa mungkin saya akan berjuang untuk menjaga kepercayaan itu.  Begitu juga sebaliknya.  Ketika saya percaya kepada orang lain, itu artinya saya juga punya harapan, bahwa orang tersebut memang sungguh bisa saya percaya.

Meskipun demikian, saya tidak suka memaksakan diri supaya orang lain percaya kepada saya.  Ketika dengan segala upaya saya merasa telah berusaha menunjukkan diri sebagai pribadi yang bisa dipercaya dan ternyata orang tersebut tetap tidak percaya ya mau apalagi.  Bagi saya bodoh sekali jika saya tetap memaksakan diri supaya orang itu menaruh kepercayaan kepada saya sementara pada kenyataannya tidaklah demikian adanya.
 
Menilik kejadian yang terjadi dan menimpa hidup saya akhir-akhir ini, ada satu hal yang bisa saya pelajari.  Bahwa tidak semua yang bermulut manis, bertampang menarik, bertutur kata sopan, lemah lembut dan penuh dengan 'drama' itu adalah orang yang bisa dipercaya.  Pengalaman membuktikan bahwa orang-orang yang demikian ternyata hobinya menikam dari belakang.  Di depan kita manis tapi di belakang kita menghunus pedang.  Kalau pas kena, aduh, sakitnya sungguh luar biasa.
 
Bagi saya, semua pengalaman, akan saya jadikan pelajaran.  Jangan mudah percaya terhadap seseorang!  Ketika engkau terlalu berharap dan hasilnya di luar dugaan, semua itu akan sungguh menyakitkan.  Terkadang, seseorang yang kau anggap musuh, mungkin lebih bisa menghargaimu daripada orang yang kau anggap teman! Seseorang yang kau anggap teman bisa jadi adalah orang pertama yang ingin mematikan hidupmu!  So, be careful!
 
Apakah saya sakit hati?  Jelas! Apakah saya menyerah?  Tentu saja tidak.  Hidup harus tetap berjalan.  Sakit hati tidak akan menyelesaikan persoalan.  Mungkin akan ada proses 'mengenali' lebih dalam siapa kawan siapa lawan.  Belajar untuk menerima segala kepahitan dengan hati yang lapang dada meskipun susahnya luar biasa.

Dalam hal ini, saya ucapkan terima kasih kepada semua orang, yang membuat saya makin menyadari bahwa kepercayaan itu mahal.  Yang membuat saya semakin bisa memahami bahwa tidak semua kebaikan itu adalah kebaikan. 
Martina Felesia
Sudah hampir tiga minggu ini ada yang nggak beres dengan kepala dan leher saya.  Rasanya sakit banget.  Kalau orang Jawa Timur bilang suakiiiiittt banget.  Dipakai noleh ke kanan sakit, dipakai noleh ke kiri apalgi.  Sudah tiga kali ganti dokter diagnosanya sama saja.  Salah posisi tidur!  Boso londonya 'kecethit".

"Pernah jatuh?" tanya pak dokter.

"Belum! Eh, tidak pernah!" saya menjawab sekaligus mengoreksi.

"Ooooo.." Ureg-ureg resep.

 "Sudah dok? Gitu saja?" saya bertanya setengah takjub.

"Pergi ambil obatnya di apotik ya."

"Oh, ok!" saya pun ngeloyor keluar.  Sambil menghafalkan jenis obatnya kok ternyata mirip-mirip juga dengan obat dari dokter sebelumnya.  Jangan-jangan sodaraan nih obat.  Tuh kan, saya mulai melantur.

Pas sakit begini terus terang saya baru sadar pentingnya sehat.  Ini baru sakit leher loh, sudah bikin repot.  Apalagi sakit yang lain.  Kalau bisa saya mohon kepada Tuhan supaya dijauhkan dari penyakit aneh-aneh.  Saya nggak sanggup menanggungnya.  

Sebenarnya, beberapa bulan ini saya sudah merintis gaya hidup sehat dengan ikut olah raga.  Jogging!  Ini jenis olah raga yang murah, meriah, tapi bikin gembira.  Setiap sore sepulang kerja saya ada grup jogging di kantor.  Nggak setiap sore ding, hanya hari Selasa dan Kamis.  Tapi kalau rutin sebenarnya bisa lumayan juga untuk kesehatan.  Minimal badan kita bergerak.  Selain untuk kesehatan juga untuk mengantisipasi melebarnya lemak kemana-mana.  

Gara-gara kecethit kegiatan jogging saya jadi terkendala.  Jangankan jogging.   Bawa kepala sendiri saja rasanya berat sekali.  Habis minum obat nyerinya memang hilang.  Tapi bikin mata jadi ngantuk.  Sementara sudah jelas aturannya:  Dilarang tidur di kantor sengantuk apapun anda! Tersiksa banget pokoknya.  Masak mau ambil MC terus.  Mana mau dokternya ngasih?

Tapi seperti biasa, di balik peliknya masalah yang menimpa akan selalu ada himahnya.  Karena sakit ini, saya jadi lebih bisa mengontrol diri.  Menjaga supaya nggak marah, nggak neriakin anak-anak di rumah, dan nggak kenceng-kenceng lagi ngomongnya.  Orang di kantor hepi, anak-anak di rumah juga hepi.  Everybody is happy!  Saya pun jadi sering-sering menyebut nama Tuhan.  Mengeluh sekaligus mengadu.  Ah....kurang ajarnya saya.  Mencari Tuhan kalau pas kesakitan saja.  

Hari ini, tepat di hari Kartini 21 April 2018, saya tegaskan sekali lagi "Ayo olah raga, rek! Mumpung belum terlambat sama sekali".
Martina Felesia
Beberapa hari ini hujan selalu datang pada pagi hari.  Tanpa aba-aba, tanpa tanda-tanda.  Tiba-tiba saja datang menderai berselang-seling dengan suara angin.  Terkadang rumah pun tempias dan airnya merembes masuk di tembok rumah.  Hal yang biasa tetapi terkadang membuat naik darah.  Apalagi jika datangnya pada saat hari kerja dan bukan pada saat libur akhir pekan.  Membayangkan berangkat kerja saja malas, apalagi harus terjebak dalam kepadatan dan kemacetan.

Dua hari yang lalu lebih parah lagi.  Hujan yang berkunjung tak sampai satu jam, hampir menenggelamkan seluruh kota.  Parit dan selokan yang serba mini tak mampu menampung luapan air.  Jalanan tergenang, kampung-kampung dan perumahan tak luput dari terjangan air dan lumpur selokan.  Jika parit dan selokan meluap, bisa jadi bukan hanya karena bentuknya yang sempit.  Kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya adalah penyakit yang mengakibatkan banjir di mana-mana.  Tak kalah peliknya adalah kebiasaan melibas pepohonan tanpa berminat untuk melakukan penanaman ulang.  Mungkin orang-orang seperti ini seharusnya dipindahkan saja ke planet Mars.  Atau kalau perlu disekolahkan lagi supaya menjadi sedikit lebih pintar.

Hujan bagi sebagian orang, mungkin adalah musibah.  Tetapi bagiku, warna dan suaranya selalu menyisakan kenangan.  Memandang hujan adalah memandang jauh ke dalam lubuk hati, berbicara tentang banyak rasa dan pengharapan.  Di antara bulir-bulirnya selalu ada keindahan.  Meskipun ia diturunkan dari langit yang kelam, terkadang didahului kilat dan petir menggelegar, ia akan tetap berwarna bening dan menyejukkan.  Bahkan sesudahnya, ia mampu menampilkan pelangi, tangga para bidadari yang turun dari surga.
 
Memandang hujan seperti memandang kehidupan.  Hidup tidak selalu hitam atau putih.  Terkadang ia berwarna biru atau kelabu.  Terkadang juga ia bisa jadi merah, hijau atau kuning.  Pandanglah saja.  Hanya perlu memandang.   Dan tiba-tiba engkau akan menemukan kesadaran, bahwa hidup ini indah.  Sangat indah.  Jadi tak perlu berkutat dengan kesedihan terlalu lama.  Pandanglah hujan, dan hatimu akan meluap dalam kegembiraan.

Hujan dan aku, adalah teman lama, yang selalu diperbaharui dalam rasa.
Martina Felesia
Judulnya saya lagi bosan.  Bosan melakukan apa saja, bosan memikirkan apa saja.  Bahkan yang lebih menyedihkan, kadang terpercik satu rasa: bosan dengan hidup saya!  Saya hanya merasa, alangkah baiknya kalau kita tidak perlu memikirkan apa-apa, tidak perlu melakukan apa-apa.  Hanya diam dan hening.  Hanya memandang dan menikmati.  Semacam meditasi atau kontemplasi.

Tapi ternyata tidak melakukan apa-apa itu juga sama membosankannya dengan melakukan apa-apa. Padahal saya sudah memperbanyak jam tidur, sudah  berusaha mengurangi berbagai aktifitas dan berusaha mengurangi banyak berkata-kata.  Tidak melakukan apa-apa ternyata lebih menyakitkan daripada melakukan apa-apa.  Kepala terasa berat, otak menjadi stagnan di tempat.  Banyak hal yang biasanya 'mencerahkan' pemikiran lewat begitu saja.  Tidak saya respon atau pun saya tolak.  Semua hanyalah frase kosong semata.

Setiap kali merasa bosan saya hanya diam.  Benar-benar diam.  Mencoba untuk memahami arah kebosanan ini.  Mencoba mencari di bagian mana saya mesti berhenti.  Berhenti untuk sejenak beristirahat dan introspeksi diri.  Apa sih yang membuat kebosanan ini datang?  Adakah sesuatu yang salah dengan hidup yang itu-itu saja?

Dan ini adalah kali ke sekian ketika rasa bosan itu datang bergulung-gulung, menerjang laksana gelombang.  Sebenarnya bukan rasa bosan itu masalahnya.  Yang menjadi masalah adalah ketika saya mulai kehilangan rasa.  Kehilangan cara pandang.  Kemampuan memandang kehidupan dengan cara yang berbeda.  Cara pandang yang perlahan terkikis habis oleh ketiadaan waktu, membuat saya tidak bisa lagi memandang hidup ini sebagai sesuatu yang indah.  Sesuatu yang senantiasa membawa harapan.  Sesuatu yang sudah lama saya lupakan.  

Bisa jadi rasa bosan ini akan menjadi pembelajaran tersendiri dalam hidup yang serba singkat. Menjadi permenungan pribadi untuk menjadi manusia yang seharusnya.  Belajar lagi menikmati hidup.  Menjadikannya lebih indah dan bermakna.  Dan semoga dalam keheningan, segenap luka dan kepedihan akan disembuhkan.
Martina Felesia
Seorang teman pernah ditolak membeli baterai jam tangan di suatu toko jam terkenal ketika ia sedang berlibur di suatu kota.  Alasannya sepele:  dandanan teman saya ini terlalu mbois dan tidak mencermikan ketajiran sama sekali.  Berkaos oblong, bersandal jepit dan bercelana jeans.  Tentengannya tas selempang.  Si Penjual macam tidak percaya ketika teman saya tadi meminta baterai jam sesuai dengan merk yang dia inginkan.  Penjualnya hanya berkata, "Baterai yang itu tidak ada Bu.  Ada sih baterei yang lain, tapi mahal harganya!"

Teman saya ini, meskipun statusnya seorang pendidik, mau tidak mau jadi esmosi juga melihat si Penjual yang tidak menghargai pelanggannya sama sekali.  Mulutnya pun langsung nyolot, "Mahal itu berapa???  Mau mahal mau nggak, pasti ada tarifnya, kan???"

Si Penjual, mungkin karena diperhatikan oleh banyak mata, mau tidak mau akhirnya mengambil juga baterai jam yang disebutkannya tadi.  Tanpa ba bi bu lagi, teman saya mengambil dua kali lipat dari yang biasa dibutuhkannya.  Sewaktu hendak memasang baterai ke jam tangan, barulah mata si Penjual terbuka.  Ia baru menyadari bahwa jam tangan teman saya tadi terbuat dari lapisan emas murni, hanya bisa dibeli dalam istilah 'limited edition' dan harus dipesan secara khusus.  Langsung saja kesombongannya merosot macam karung beras kosong.

Waktu menceritakan pengalamannya ini, teman saya itu masih juga terbawa emosi dan saya terbawa  imajinasi sambil ngekek membayangkan ekspresi wajahnya ketika dipleroki oleh si Penjual jam tangan tadi.  Dalam hal ini saya hanya bisa menasehati, "Yo wes.....lain kali kalau lagi kluyuran ke kota lain itu, ya berdandanlah yang cantik, manis dan tajir.  Mosok duitnya milyaran tampilannya macam bekpeker....hahahaha!!"

"Semprul kowe......!!" mulutnya makin manyun.

Dalam hidup ini, menilai seorang dari tampilan luar itu sudah menjadi hal yang biasa.   Dengan mudahnya orang memberikan penilaian dan penghakiman terhadap orang lain.  Yang berpenampilan tidak sesuai dengan yang di'harapkan'nya otomatis mendapatkan penilaian yang rendah.  Tetapi jika ada orang yang berpenampilan sesuai yang di'inginkan'nya otomatis orang tersebut akan terlihat hebat.  Tidak peduli bahwa pada akhirnya orang tersebut ternyata bego atau tulalit tidak masalah, yang penting sudah sesuai harapan.

Sebagai orang Jawa, saya dibiasakan untuk memanggil orang yang baru dikenal dengan sebutan Mas, Mbak, Bapak atau Ibu. Meskipun orang tersebut lebih muda, saya akan memanggilnya dengan Mas atau Mbak.  Bukan karena saya tidak menghargainya atau menganggapnya lebih tua dari saya.  Tetapi itu adalah sebagai bentuk penghormatan karena saya baru mengenalnya.  Dengan tidak menyebut namanya secara langsung, saya sudah menempatkan orang tersebut sebagai seseorang yang harus dihormati. Tidak peduli tampilannya seperti apa, penghargaan dan penghormatan harus tetap diberikan.

Saya sungguh sangat beruntung karena dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan untuk tidak gampang menilai orang lain dari tampilan luar.  Sejak kecil saya dibebaskan untuk mengenal dan berkawan dengan banyak orang tanpa melihat penampilan, apalagi suku atau agamanya.  Menurut Bapak saya, setiap orang, siapapun  mereka,  berhak mendapatkan penghormatan dan penghargaan.  Tidak peduli dia seorang tukang becak atau tukang nyopiri pesawat terbang, mereka tetaplah seorang manusia.  Kaya atau miskin, itu hanyalah pelengkap.  Yang paling utama adalah,bagaimana engkau memperlakukan orang lain, manusia lain, sama seperti engkau ingin diperlakukan oleh mereka.

Respect each others!  Adalah cara supaya kita tidak gampang melakukan penilaian dan penghakiman, tanpa mau melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut.  Semoga kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar, bahwa kita hidup tidak sendiri.  Jadi, jangan mau menang sendiri.  Penghakiman yang diberikan kepada orang lain, akan diberikan juga kepada kita pada akhirnya.
Martina Felesia
Saya ingat betul, pertama kali nemu  program yang namanya Facebook ini membuat hati berbunga luar biasa.  Maklum, sayanya gaptek dan tahunya hanya milis diskusi.  Jadi ketika ada program pertemanan yang bisa pasang foto profil itu rasanya sesuatu banget.  Itu tahun 2008.  Teman yang nge'add' saya pertama kali adalah Martinus, teman saya SD...hihihi.  
 
Waktu itu saya masih culun nggak tahu cara membedakan Home dan Profile.  Bingung mau diapain.  Kadang malah cuman saya cuekin.  Bukan karena sombong, tapi karena nggak tahu gimana cara mainin si Pesbuk ini.  Lama-lama, setelah teman saya jadi agak banyakan, saya jadi nyandu.  Padahal terakhir kali nyandu itu saya hanya nyandu sama komik Kho Ping Hoo.  Lhadalah kok ya ini jadi nyandu Pesbuk.  Sehari nggak buka FB itu rasanya kayak kehilangan gebetan yang baru mau akan kita taksir.  Nyesekkk....pakai banget!
 
Memang sih, Pesbuk membuat saya  bisa terhubung dengan banyak teman.  Mayoritas dari mereka adalah teman yang hanya saya kenal di dunia maya.  Tapi pertemanan itu kok ya seolah nyata gitu ya.  Saya pun heran.  Bagaimana mungkin saya bisa begitu leluasa dan begitu akrab bercakap dengan mereka2 yang tidak pernah saya jumpa sama sekali?  Hanya beberapa orang yang memang sungguh saya kenal, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.  Tapi mengapa mengapa saya merasa hepi2 saja?  Mungkin karena waktu itu buka FB di kantor masih belum jadi masalah.  Jadi sayanya suka nyuri2 waktu untuk update status.  Dan bos saya ternyata juga suka main FB.  Hadeuh......ternyata banyak juga waktu yang saya korupsi gara2 FB, ya?  OMG, kalau dipikir-pikir, ternyata saya pun seorang pencuri juga.

Terus mesbuk di kantor jadi larangan.  Bukannya berhenti, saya malah banyak meluangkan waktu depan komputer di rumah.  Pakai modem.  Hisshh....pokoknya norak banget deh.  Padahal hanya untuk memelototi status orang lain.  Memberi like.  Mengasih komentar.  Rasanya senang banget kalau orang tersebut merespon like kita.  Seolah sayanya jadi orang penting gitu.  Padahal kalau mau waras dikit, apa ya mungkin orang2 di dunia maya ini sungguh peduli? Meskipun demikian, setelah sekian lama saya mencoba lepas dari FB. toh saya tetep saja tidak bisa lepas darinya.
 
Bagaimanapun juga, kalau boleh jujur, dari FB saya bisa belajar banyak hal, terutama tentang nilai2 dan tentang bermacam kejiwaan manusia.  Ada banyak teman yang waras, ada juga yang sakit jiwa.  Ada yang nasionalis ada yang ingin cepat masuk surga.  Ada yang kelihatannya pintar, tapi ternyata konslet otak.  Dari cara update status, atau membagi cerita, saya jadi paham, betapa tidak semua teman memang murni mau berteman.  Banyak juga yang ternyata diam-diam, menganggap saya bukanlah teman, karena saya beda.  Bisa beda suku, bisa beda budaya, bisa beda agama.  Semua terlihat jelas, jika saya memandangnya satu persatu, dengan cara pandang yang 'luar biasa'.

Dari FB juga saya belajar, bagaimana  menjadi seseorang yang mampu berempati.  Memang sih ada banyak orang stres di luar sana.  Ada banyak orang yang antusias menyebar benci, tapi ada banyak orang juga yang sungguh bisa berbagi kasih.  Pandanglah!  Lihatlah!  Ternyata FB bisa menguliti dirimu luar dalam tanpa engkau sadari.  Penampilan bukanlah ukuran untuk menilai apa yang ada dalam pikiran.

Ah, tidak terasa sudah 9 tahun nama saya terdaftar di FB.   Ada kalanya saya bosan juga.  Selain itu, kalau ditanya "What's on your mind?" saya sudah mulai bingung mau njawab apa.  Masalahnya banyak sekali yang ada di pikiran saya hari2.  Kalau setiap jam saya upload, kelihatan banget dong kalau saya masih kecanduan FB.  Padahal saya, perlahan tapi pasti, ingin segera bercerai dan bisa move on dari segala permasalahan yang ada di pikiran banyak orang.  Bagaimanapun juga, bisa jadi hidup tanpa FB, akan menjadi lebih indah dan membahagiakan untuk saya ke depannya.
Martina Felesia
Sudah hampir satu bulan ini saya ikut gaya kekinian yang lagi trend: olah raga!  Hanya saja, dibanding  ikut fitness atau apalah namanya, saya lebih memilih ikut olah raga yang murah meriah dan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.  Seminggu dua kali, sepulang kerja, saya mampir ke lapangan dekat sebuah mall dan ikutan lari bersama banyak orang mengelilingi lapangan.

Sebenarnya di kantor juga ada kegiatan yang sama.  Ada beberapa teman kantor yang rutin berolah raga lari selesai pulang kerja.  Lokasinya masih berada di dalam kawasan tempat kerja. Meskipun banyak peminatnya, terus terang saya nggak bisa ikut karena pulangnya pasti terhambat macet.  Sebagai informasi, selain lari, sesudahnya teman-teman saya pasti terjebak acara narsis after running.  Jadi sudah pasti, saya nggak akan bisa pulang tepat waktu.

Mulai berlari di atas usia kepala empat rasanya susah sekali.  Baru mulai setengah lapangan jantung saya terasa mau copot.  Sakittt...banget!  Ngalah-ngalahin lagunya Cita Citata.  Jadinya saya hanya bisa selang-seling antara jalan dan lari.  Nggak papalah, untuk ukuran pemula usaha saya sudah sangat luar biasaYa memang sih, jika dibandingkan dengan tingkah saya sewaktu muda memang jauh sekali.  Kalau dulu saya tidak pernah merasa capek meskipun tingkah laku saya nggak karu-karuan, sekarang baru lari muteri setengah lapangan saja sudah ngos-ngosan

Urusan memulai olah raga ini sebenarnya berkaitan erat dengan kenaikan berat badan yang tidak signifikan.  Sebentar ukuran celana melonggar, sebentar ukuran celana terasa mencekik pinggang.  Jadi mau tidak mau saya harus mulai untuk belajar sehat.  Selain itu, berkat rayuan maut mantan pacar saya yang hobinya olah raga, akhirnya hati saya luluh.  Dengan semangat empat lima yang sebenarnya sudah mau layu sebelum berkembang, akhirnya saya mulai juga hal-hal yang mulanya terasa seperti mission impossible ini.  

Kedua kali dan seterusnya saya sudah mulai terbiasa.  Jantung sudah tidak terasa sakit lagi. Jarak tempuh juga sudah mulai bertambah.  Jika mula-mula hanya setengah putaran, sekarang sudah bisa satu putaran penuh.  Terus satu setengah putaran.  Paling banter sih dua putaran.  Tapi itu sudah membuat kaki pegal-pegal.  Apalagi jika kebetulan ada rombongan para penjual obat herbal yang lagi promosi di sekitar lapangan.  Biasanya ada kegiatan aerobic atau senam zumba gratis.  Cukup dengan ikut megal-megol di situ bersama dengan emak-emak yang lain, keringat bisa mengucur deras.  Lumayan kan?

Saya berharap pada diri sendiri, semoga acara belajar hidup sehat ini bisa berlanjut terus.  Jadi saya harus tetap semangat dong.  Selain hujan, tidak ada yang bisa menghalangi saya untuk lari muteri lapangan.  Semoga selain menghasilkan badan yang sehat, bodi saya yang makin semok ini bisa terselamatkan.  Bukan masalah semoknya itu, tapi masalahnya saya nggak mau mengeluarkan uang lebih untuk membeli baju atau celana baru, gara-gara bodi yang tidak bisa diajak untuk bekerjasama.

Mens sano in corpore sano!  Ayo olah raga, rek!!!!