Martina Felesia
Tahun ini terpaksa merayakan tujuh belas agustusan di rumah sakit.  Nggak tahu ya, tidak ada hujan tidak ada angin, tiba2 saja saya terserang vertigo.  Namanya sih keren.  Mirip2 zodiak idola saya, Virgo. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa dibilang manis.  Menyenangkan.  Terserang vertigo artinya ya harus nginep di rumah sakit karena segalanya menjadi serba berputar-putar.  Macam kita lagi main gasing.  Tapi kita yang ditaruh di ujung gasing, terus diputer....werrrr....! Yang jelas badan tiba-tiba terasa lemas, timbul rasa mual, dan tubuh seolah-olah berputar.  Mata pun rasanya berkunang-kunang.  Sampai muntah2.
 
Vertigo sendiri sebenarnya bukanlah nama suatu penyakit.  Vertigo merupakan sensasi berputar di dalam atau di luar kepala yang terjadi secara tiba-tiba, seringkali dipicu karena menggerakkan kepala terlalu cepat, atau bisa juga karena masalah migrain dan kelelahan yang tak tak terelakkan, ditambah dengan lupa makan.  Dan pemicu vertigo saya sepertinya yang terakhir itu: kelelahan dan lupa makan.

Saya ingat sehari sebelumnya, saya ikut gladi bersih upacara tujuh belas Agustus di kantor.  Sorenya pulang kerja bukannya langsung pulang, malah lanjut dengan jogging sore.  Padahal saya sudah merasa lelah waktu itu.  Sampai rumah bukannya langsung makan, malah memilih tidur sebentar karena jam 8 malam ada tugas rutin latihan koor di paroki.  Pulang latihan koor saya masih harus pergi melayat tetangga yang meninggal karena besoknya jenazah akan dikirim ke kampung halamannya untuk dimakamkan.  Pulang melayat saya langsung terkapar dan tidur saking lelahnya.  Besok paginya, subuh2, saya akhirnya klenger sendiri!  Dan mau tidak mau harus dievakuasi ke rumah sakit.

Jujur saja, seumur-umur baru kali ini saya harus rawat inap di rumah sakit.  Biasanya saya yang nunggu orang sakit di rumah sakit.  Kali ini saya yang harus dirawat dan ditungguin.  Hadeuh....pokoknya luar biasa rasanya.  Kalau boleh minta, hendaknya ini jadi pengalaman pertama dan terakhir untuk saya.  Sebagus-bagusnya rumah sakit, lebih bagus rumah kita sendirilah.  Seenak-enaknya di rumah sakit, ya tentu saja lebih enak di rumah sendiri juga.

Di balik semua itu, ada hikmah yang patut untuk diingat.  Aktif itu boleh2 saja, tapi harus tahu batas.  Kalau dirasa sudah capek, butuh istirahat, ya istirahatlah.  Jangan terlalu lasak.  Kalau sudah sakit semua jadi repot.  Merepotkan pokoke!  Meskipun dapat bonus surat keterangan sakit selama 3 hari, tetep saja yang namanya sakit itu nggak enak.  Ngopi nggak bisa.  Main hp kepala tambah sakit.  Bergerak sedikit oyong.  Serba salah!

BTW, waktu nulis ini saya sudah lumayan sehat.  Meskipun masih sedikit oleng, tapi minimal saya sudah bisa menyelesaikan satu tulisan.  Gutlak untuk diri saya sendiri !
Martina Felesia
Setelah dipikir-pikir, saya baru sadar kalau rumah kami itu bisa dibilang minimalis pake banget.  Tidak ada kursi, tidak ada rak-rak penuh barang pecah belah atau pun dinding yang full berisi foto keluarga atau gambar-gambar indah.  Ya.  Di rumah yang tidak seberapa besar ini hanya ada kebutuhan pokok untuk tidur, springbed tanpa dipan, almari pakaian secukupnya, dan gelaran karpet tanpa meja kursi di atasnya.  Ada seperangkat komputer, printer dan TV yang semuanya serba lesehan.  Bisa dibilang semua serba terlalu lapang.

Sebenarnya, jujur saja saya tidak bisa membedakan antara minimalis dan malas.  Sejak awal menikah memang saya sudah sepakat dengan suami untuk meminimalisir isi rumah.  Alasannya sederhana saja:  Kalau awalnya dengan alasan supaya anak-anak bisa bebas bergerak, alasan yang sebenarnya karena saya paling malas disuruh bersih-bersih rumah.  Kalau hanya untuk menyapu dan mengepel lantai sih tidak masalah.  Yang jadi masalah adalah saya memang tidak mau ribet dengan urusan lap-mengelap meja kursi dan teman-temannya itu. Jadi apakah itu minimalis atau malas ya beti2 sajalah.

Saya ingat waktu ibu saya datang dari kampung.  Setengah berbisik beliau berkata,"Wong dua-duanya kerja kok yo kursi tamu saja ndak punya."  Waktu itu saya hanya bisa ngakak dan bilang ke ibu," Aku males bersih2, Bu! Wes.  Itu saja!"  Dan ibu saya hanya bisa menerima kata2 saya dengan terpaksa.  

Urusan pilihan untuk meminimalisir isi rumah ini sebenarnya merupakan bagian dari cita-cita saya sejak lama.  Penginnya kalaupun sudah menikah, saya tetep tidak mau diribetkan dengan urusan plekenikan rumah.  Rumah harus begini atau begitu.  Harus ada isi ini atau itu.  Yang penting bagi saya rumah itu harus nyaman.  Semua penghuninya bisa bebas bergerak dan berekspresi.  Rumah adalah tempat di mana kita selalu ingin pulang dan kalau sudah berada di dalam kita malas untuk keluar.  Itu saja! 

Jadi, ya begitulah.  Saya mah tidak terlalu peduli apakah rumah kami penuh dengan pernak pernik atau tidak.  Yang terpenting adalah bagaimana semua penghuninya bisa belajar menjadi satu keluarga.  Belajar untuk saling menyayangi, saling menolong, saling menghormati saling mengampuni.  Tak lupa juga sebagai manusia normal perlu juga saling berteriak, saling marah, saling mengingatkan, tapi tidak menyimpan dendam.  Itulah rumah!  Tempat persemaian pertama sebuah keluarga.
#ngeblog lagi di hari Minggu
Martina Felesia
Terkadang, yang namanya bersenang-senang itu memang tidak perlu direncanakan.  Jauh-jauh direncanakan biasanya ujung-ujungnya malah nggak jalan.  Itu seperti cerita 'angan2' yang dari nada2nya pasti anget di depan terus adem nggak berkelanjutan.  Sama seperti cerita kemarin, ketika kantor memberikan kesempatan pulang setengah hari dalam rangka Imlek.  Setengah hari, Brai!  Sudah terbayang setengah hari kerja dan besoknya libur.  Alangkah indahnya hidup!

Dan seperti yang sudah2 banyak sekali rencana yang di'suguh'kan.  Kalau tahun lalu kami melalak-lalak ke negara tetangga, Singapura, kali ini kami hanya ingin berkaraokean di Inul Vizta.  Nggak muluk2 sebenarnya.  Hanya pengin nyanyi2 loh!  Koro2! Itung2 menguji nyali melawan para penyanyi papan atas Indonesia, meskipun hanya lewat layar.... 😂

Jauh2 hari sebelumnya sudah banyak yang mendaftarkan diri jadi peserta.  Kurang lebih sepuluh orang.  Termasuk partai besarlah jika dibandingkan peserta yang reguler, maksudnya yang itu2 saja.  Jadi, sudah mulai didatalah nama para emak tersebut.  Meskipun agak kurang yakin, tapi takjub jugalah aku ini melihat antusiasme mereka.  Nampak kali kalau kurang hiburan...hahaha...terlalu banyak tekanan di kantor atau di rumah nggak tahulah yaa.  Yang jelas semua nampak hepiiiii... banget ketika ingin ikutan.

Pas hari H-nya, kemarin itu, mulai rontoklah para peserta anget2 tai ayam ini.  Satu-persatu gugur mengundurkan diri dari kepesertaan.  Alasannya pun macam-macam.  Yang harus jaga anaklah.  Yang sudah di'booking' suamilah.  Yang harus ke sanalah, ke sinilah.  Dan akhirnya hanya tersisa enam orang, yang memang pada dasarnya anggota tetap tahunan.  Tahunan karena setiap tahun ya anggotanya itu2 saja.  

Dan meskipun demikian, setengah hari kemarin telah menjadi salah satu dari hari kebahagiaan kami.  Segala rasa penat, frustasi, esmosi,  dan segala huru hara yang  terjadi selama di kantor, lebur dalam lengkingan suara ngerock, ndangdut, melow, gado2 dan sebagainya.  Nggak ada lagi yang namanya suara bagus atau tidak bagus,.  Nggak ada lagi yang namanya jaim atau tak jaim.  Semuanya heboh dalam tawa ria meskipun senandung berbeda.  Aduh...penginnya sih kerja setengah hari setiap hari ya.......(ngarep.com).

Dan dirikupun, yang sebelumnya pinggang ini encok karena terlalu lasak, kemarin itu otomatis tersembuhkan.  Lupa encok, lupa umur 😁😁  Kayaknya emang kurang hiburan nih.

Akhir kata, kuucapkan "SELAMAT HARI RAYA IMLEK" untuk para sahabat yang merayakan.  Tahun ini memperingati shio saya, Shio Babi.  Kalau menurut mbah Google ciri2 orang bershio Babi itu antara lain adalah menikmati hidup, cinta damai serta royal, tidak pernah meminta bantuan, berorientasi keluarga, berkomitmen dan peduli, dan menikmati tanggung jawab serta kreativitas.  Seperti sayalah pokoknya...hahaha. Percaya boleh.  Tidak percaya juga tidak dilarang.  Intinya adalah:  Jangan lupa bahagia.  Itu saja! 

#05Feb19-Lunar New Year
Menikmati pinggang encok di hari raya Imlek
Martina Felesia
Hari ini kalau pun saya tiba2 ngeblog, itu bukan karena saya ingin, tapi karena saya sudah memasukkan itu dalam resolusi tahun 2019 ini: minimal harus menulis satu tulisan di hari Minggu dan membaca satu buku.  Dan sebagai bentuk ketaatan saya pada resolusi yang saya buat sendiri, mau tidak mau saya harus menulis, meskipun pikiran saya melayang entah kemana-mana.

Hari ini seorang teman telah kehilangan ayahnya.  Ayah yang bertahun-tahun jarang ada kesempatan untuk dilihat dan dikunjungi karena adanya tugas lain yang menanti.  Teman saya kehilangan ayahnya, pada saat dia telah berikrar sumpah setia untuk melayani Tuhan selamanya.  Bisa dibayangkan betapa sedihnya ketika harus melawat ayah tercinta, pada saat dia sudah tertidur abadi tanpa bisa bangun lagi.  Tidak ada kesempatan untuk mengatakan selamat tinggal.

Ini hari kedua puluh di tahun 2019.  Boleh dikata segala sesuatu masih sama seperti hari2 sebelumnya.  Penderitaan mungkin akan tetap ada.  Kesedihan juga belum tentu berkurang.  Tapi bukankah hidup harus tetap berlanjut?  Selagi nafas masih belum tercabut dari badan, bukankah lebih baik untuk terus berjuang?   Setiap penderitaan atau kesedihan, pasti membawa ceritanya masing2.  Namun harapan akan menjadi bagian dari jalan penyelesaian.  Berbahagialah mereka yang sudah sampai ke bagian terdalam dari pencapaian seorang manusia.
 
#RIP untuk papamu, Sr. Suryati,SSCC
Martina Felesia
Waktu kecil gudiken is my hobby.  Gudiken itu adalah kondisi bekas luka yang sering digaruk-garuk dan akhirnya menjadi tato seumur hidup.  Saking banyaknya sampai aku  menyebutnya gudik.  Seingatku, dengkul ini tidak pernah berjedah untuk tidak terluka.  Entah karena jatuh, entah karena nabrak sesuatu dan lain-lain.  Yang jelas untuk urusan luka meluka itu aku jagonya.  Dan sampai hari ini aku masih sering takjub dengan diri sendiri: apakah bener aku selasak itu?

Bicara masalah gudik (bekas luka), tidak afdol rasanya jika tidak bicara mengenai asal muasal bagaimana luka itu bisa terbentuk.  Setiap luka pasti punya ceritanya sendiri-sendiri.  Punya kenangannya sendiri-sendiri.  Dan yang pasti, punya penyebabnya masing-masing.

Luka di tungkai kaki kananku contohnya.  Luka berbentuk sayatan itu adalah luka yang kudapatkan waktu berlibur ke desa nenekku.  Suatu hari aku ikut pakde ke pasar naik sepeda onthel jaman old.  Kalau tidak salah waktu itu aku kelas empat atau lima SD.  Pulang dari pasar, saking asyiknya berimajinasi saat melewati pematang sawah, kakiku masuk ke sela-sela roda sepeda.  Dan hasilnya ya demikian.  Kakiku punya tato.  Luka tersebut berhasil membuatku absen tidak masuk sekolah selama berhari-hari.

Kadang aku berpikir, jika luka fisik meninggalkan bekas, bagaimana dengan luka batin?  Orang yang terluka hati dan jiwanya sudah pasti tidak nampak bekasnya.  Tapi bisa jadi berdampak luar biasa.  Ia memang tidak kelihatan.  Tetapi menimbulkan rasa sakit tak bertepian.  Luka karena dimaki, difitnah, di'bully', diselingkuhi, di 'php' ni dan lain-lain, adalah contoh penyebab luka batiniah.  Tidak butuh asal muasal dan penjelasan berjilid-jilid, semua itu sudah pasti menimbulkan rasa sakit dan kecewa.  Apalagi jika semua luka itu datangnya dari orang2 terdekat kita.  Orang2 yang kita percaya.

Kembali lagi ke masalah gudiken tadi.  Ternyata kelasakanku waktu kecil menurun juga ke anak-anak.  Bagi si Bungsu tiada hari tanpa luka di kakinya.  Melihatnya seperti melihat diriku di waktu kecil.  Asek nak jatoh aje.  Ujung2nya segala luka akibat jatuh pun digaruk-garuk dan jadi gudik.  Sungguh membosankan dan menyedihkan. Tapi ya mau bagaimana lagi. Segala macam kelasakan ini toh pada akhirnya akan berhenti sendiri.  Jika dia tidak pernah jatuh, bagaimana bisa bercerita kalau jatuh itu tidak enak?  Apa yang bisa diceritakan kelak saat beranjak tua?  Minimal dengan sering terjatuh, aku, anakku, bisa belajar bahwa segala luka itu bisa disembuhkan.  Gudik bisa sembuh dengan obat yang tepat dan penanganan yang cepat.  Luka batin bisa disembuhkan dengan kata maaf dan pengampunan.

Tanpa penanganan yang tepat, semua luka itu, baik luka fisik maupun batiniah, hanya akan menjadi borok tak berkesudahan.  Akan menggerogoti setiap bentuk keindahan dan kebahagiaan dalam kehidupan.  Meninggalkan bekas seperti tato yang susah hilang.  Jadi, jangan pernah malu untuk bangkit dan sembuh, meskipun telah terluka.  Tak peduli apa pun bentuknya.
Martina Felesia
Waktu kecil cita-cita saya cuman satu: punya perpustakaan gede yang berisi buku2 kesukaan saya.  Tidak pernah terpikirkan bahwa ternyata untuk punya perpustakaan seperti itu membutuhkan modal yang ternyata tidak sedikit jumlahnya.  Terus, karena kelihatannya sulit untuk terwujud, akhirnya saya berbelok haluan dan mengganti cita2 tersebut.  Saya kemudian bercita-cita jadi penulis.  Penulis ya, bukan juru tulis!  Maksudnya saya pengin jadi pengarang dan minimal bisa punya buku hasil karya sendiri atau semacam itulah.

Tapi ternyata cita2 itu juga harus kandas di tengah jalan.  Sekali lagi, karena terbentur masalah finansial, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja.  Tujuannya sudah pasti: mendapat penghasilan sendiri dan berharap bisa mengumpulkan buku sedikit demi sedikit.  Selain itu saya juga bisa ikut berkontribusi dalam urusan finansial keluarga, meskipun tidak seberapa.  Sembari bekerja, sebenarnya saya ingin melanjutkan sekolah.  Tapi kok ternyata yang namanya 'uang' lebih menyilaukan daripada keinginan untuk meluangkan waktu memeras otak dan pikiran.  Dan sesudahnya, saya masih juga terlena dan terjebak dengan urusan pekerjaan.

Kalau dipikir-pikir, cita2 saya sekarang ini sebenarnya sederhana saja.  Saya ingin jadi orang yang bahagia.  Bahagia dalam arti saya memang tidak pengin apa2 lagi.  Suer.  Di saat orang lain ingin bergaya dengan rumah, aksesoris, perhiasan atau pamer kekayaan, saya kok lebih cenderung ingin mengosongkan rumah.  Sembilan belas tahun menikah tidak mengubah niat saya untuk tidak memiliki perabot rumah tangga.  No kursi, no 'bupet', no dipan dan no no yang lainnya.  Bukan sok gaya atau apa, tapi saya memang tidak mau rumah saya terlalu penuh dengan berbagai macam perabotan.  Nyemak!  Lagipula sejak awal saya sudah bilang sama pak Suami, saya malas kalau disuruh bersih2.  Jadi saya mau rumah dalam keadaan lapang dan tanpa berbatas sekat.  Harus bebas.  Harus lega.

Kalau diperhatikan dengan lebih seksama di rumah ini, hanya ada rak buku sederhana yang sepertinya sudah harus dipermak, karena sudah terlalu lama berdiam di sudut rumah.  Ya wajarlah kalau minta diperbaiki, lha wong itu dulu juga dapat dikasih seorang teman yang kelebihan muatan sehabis ikut pameran.  Nggak punya perabotan saja ribet apalagi punya!

O ya, kembali kepada cita2, selain jadi orang yang bahagia saya juga pengin banyak2 berbuat baik.  Kalau dulu saya lebih cenderung kepada teori2, sekarang ini sepertinya saya lebih menuju ke masalah hati.  Berbuat baik selagi masih sempat.  Belajar menghargai dan menghormati orang lain.  Belajar memanusiakan manusia lainnya.  Ya, itu memang cita2 saya sekarang.  Sulit terwujudkan?  Sudah pasti!  Tetapi, minimal saya sudah mencita-citakannya dan sedikit banyak punya niat untuk mewujudkannya.
Martina Felesia
Dulu, waktu di zaman saya kanak-kanak, jika ada manusia yang mbelingnya minta ampun, biasanya dia akan dipanggil 'Korak' singkatan dari kotoran rakyat.  Saya ingat ciri2 manusia Korak ini antara lain suka cari masalah, mau menang sendiri dan berani apa saja tanpa ada dasar.  Sing penting berani.  Urusannya benar atau salah sing penting wani sik!  Kalau zaman sekarang orang2 seperti ini lebih cocok disebut dengan manusia sampah.

Manusia sampah menurutku adalah manusia yang suka berbicara tanpa dasar.  Manusia2 sampah ini bisa terlihat dengan kasat mata ada di sekitar kita.  Mereka suka mencela, suka memfitnah, suka bergosip, suka memutarbalikkan fakta, tanpa ada dasar apalagi menggunakan data.  Mereka menganggap wajar2 saja menyebarkan berita bohong dan fitnah kepada orang lain yang tidak seide dengan dirinya.   Merupakan hal yang biasa untuk membicarakan orang lain, tanpa perlu berkaca apakah diri sendiri sedemikian juga adanya.

Ada seorang teman, banyak teman, yang bahkan dengan mudahnya mengatakan orang lain itu adalah komunis karena tidak seide dengan dirinya.  Ketika saya tanyakan apa arti komunis dia menjawab dengan bodohnya bahwa orang komunis itu adalah orang yang tidak mengenal Tuhan.  Sudah pasti orang yang tidak mengenal Tuhan itu orang jahat, meskipun sebenarnya hanya tidak sependapat dengannya.  Woiii......membedakan komunis dan atheis saja tidak bisa bagaimana bisa menghakimi orang lain sebagai bagian dari komunis???

Kalau dulu manusia sampah ini hanya menyasar kepada orang2 yang notabene mungkin bermasalah dalam hidupnya, keluarga broken home atau mereka yang tidak memiliki kesempatan menjadi baik dalam hidupnya, sekarang ini beda lagi.  Untuk menjadi manusia sampah tidak perlu lagi berpendidikan menengah ke bawah atau tidak pernah bersekolah.  Level menengah ke atas pun, yang sekolahnya tinggi2 sampai level luar negeri pun, bisa dengan mudah menjadi manusia sampah.  Teknologi informasi yang diharapkan menjadikan  manusia semakin baik, pintar dan berkembang, ternyata malah dipakai untuk menjerumuskan.  Bukannya berbagi kebaikan, malah berbagi kebohongan dan kebencian.

Coba perhatikan orang2 di sekitar kita.  Adakah yang tipe2 demikian?  Manusia yang hari2nya selalu dipenuhi dengan rasa iri hati dan benci.  Manusia2 yang punya kuota hanya sekolam tapi berlagak punya kuota selautan?  Suka berbagi berita kebencian tanpa perlu mengonfirmasi.  Semua berdasarkan 'katanya' saja.  Yang penting saya benci kepadanya, saya tidak suka kepadanya, jadi saya harus menyebarkan tentang keburukannya.  Kalau ternyata tidak ada hal buruk yang saya temukan, harus berusaha lagi dengan berbagai macam cara supaya lawan terlihat buruk, itu saja.

Ah, mengikuti perkembangan yang terjadi akhir2 ini menjadikan saya geli sekaligus punya niat untuk semakin mawas diri.  Harus berhati-hati dan tidak gegabah dalam berelasi dengan orang lain.  Harus menghormati dan menghargai orang lain.  Kalau baik katakan bahwa ia baik.  Kalau buruk katakan juga kalau ia buruk.  Jangan dibalik-balik.  Yang baik dilecehkan dan dianggap buruk, sementara yang jelas buruk dan berwatak begal dipuja puji dan diberitakan sebagai sumber segala kebaikan. Itu kampret namanya.  Kebanyakan tidur kebalik jadi otaknya ikut kebalik-balik.

Saya, meskipun hanya manusia biasa2 saja, minimal saya akan berusaha untuk tidak menjadi bagian dari manusia sampah.  Karena cita2 saya hanya satu:  menjadi manusia yang bahagia!