Martina Felesia
Saya selalu suka nonton film Upin dan Ipin.  Film animasi anak-anak dari Malaysia ini mengajarkan banyak hal kepada saya, tentang nilai2 hidup, yang pada dasarnya dulu, waktu kanak2, pernah saya rasakan dan alami.  Nilai-nilai yang mengajarkan tentang cinta terhadap sesama, dalam keluarga, dalam berteman, dalam bermasyarakat dan dalam bernegara.  Nilai-nilai yang mengajarkan tentang penghargaan, rasa hormat dan toleransi kepada mereka yang berbeda, tanpa melihat suku, agama dan golongan tertentu.

Bukannya mau membanding-bandingkan, tapi kenyataan yang ada sekarang ini membuat saya miris dan sering mencemaskan banyak hal.  Kondisi masyarakat dengan berbagai media sosial yang dipolitisasi, menjadikan relasi dengan siapa pun menjadi terasa penuh curiga dan berselimutkan benci.  Label mayoritas dan minoritas menjadi faktor penentu dalam bermasyarakat.  Bicara apapun, berpendapat apapun, bisa menjadi isu sensitif yang bisa digoreng seenaknya tanpa perlu bicara tentang validnya data dan kebenaran yang ada.  Bahkan beberapa orang yang saya anggap pintar dan berwawasan luas, ternyata bisa dan mau juga menyebarkan berita bohong dan opini yang menyesatkan, hanya karena faktor politik dan perbedaan keyakinan.

Upin dan Ipin seperti mengingatkan saya tentang keluguan dan kelucuan masa kecil, tanpa diembel-embeli label agama ataupun suku yang berbeda.  Bagaimana Upin dan Ipin memberikan ucapan selamat Hari Raya kepada uncle Mutu atau kepada Meimei tanpa takut dicap haram dan berdosa. Bagaimana Upin, Ipin dan kawan-kawannya senantiasa bermain, bergembira dan merayakan banyak hal, tanpa takut atau bahkan ditakut-takuti bakal masuk surga atau neraka.  Indah?  Tentu saja.  Sementara di sini, di negara yang saya cintai, tiba2 saja ada begitu banyak orang, yang mendadak merasa kudus dan suci, dengan melarang mengucapkan selamat Hari Raya kepada orang yang berbeda karena dikuatirkan masuk surga atau neraka.  Sebuah ironi yang menyedihkan.  Dan di tanah rantau ini, saya menemukan ada banyak orang yang demikian.

Saya agak terhibur waktu pulang kampung bulan Desember kemarin.  Di tengah-tengah kemunduran jati diri anak bangsa dalam menemukan nila-nilai hidupnya, ternyata kampung saya tidak banyak berubah.  Rumah orangtua saya masih dipenuhi oleh para tetangga yang ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal.  Sanak saudara yang berbeda keyakinan pun menyempatkan diri datang ke rumah.  Ikut bergembira bersama kami sekeluarga, meskipun berbeda dalam keyakinan dan iman.  Indah?  Tentu saja.  Dan itulah yang ingin saya tunjukkan dan ajarkan kepada anak-anak saya.

Bercermin dari Upin dan Ipin, selalu saya tekankan kepada anak2, bahwa cinta kasih kepada sesama adalah segala-galanya.  Mengaku mencintai Tuhan tapi tidak mencintai sesama adalah kebohongan.  Mengaku dekat dengan Allah tapi membenci sesama adalah kemunafikan.  Senantiasalah membantu dan menolong tanpa sekat-sekat.  Mencintai tanpa batas, supaya bisa menjadi manusia yang bebas merdeka dan hidup bahagia.  Jika hidup bisa berulang, tetaplah menjadi orang baik, tanpa takut embel2 masuk surga atau neraka. Karena surga dan neraka, hanya bisa ditentukan oleh Dia Sang Pemilik Hidup, bukan oleh segelintir manusia pongah.
Martina Felesia
Jumat itu adalah salah satu hari yang paling mengangenkan sekaligus menjemukan.  Dikangenkan karena pada hari Jumatlah kami, aku dan beberapa teman kantor punya kesempatan untuk melalak-lalak ke mall meskipun hanya untuk sekian menit.  Tidak sampai satu setengah jam, tapi semangat kegembiraannya sungguh luar biasa.  Rasanya lepas bebas, seperti anak kuda yang baru lepas dari kandangnya.  Menjemukan karena Jumat menjadi hari kerja yang paling tanggung di kantor.  Kalau hari-hari biasa pulang jam 5 sore, hari Jumat dimolorkan lagi menjadi jam 5.30 sore.  Serba nanggung dan serba terlalu lama rasanya.  Menunggu datangnya jam 5.30 sore itu loh yang ampun dijelah rasanya.  Lamaaaaaa.......banget.  Kalau detik jam bisa dicepetin, pasti bakalan tak cepetin.  

Halalbihalal di Kepri Mall

Jalan di mall, makan siang bersama disertai sedikit gosipan dan obrolan ngalor-ngidul, minimal menjadikan kami sedikit lebih fresh.  Bercanda, ketawa ketiwi sampai terbahak-bahak keluar air mata menjadi suatu hal yang manusiawi.  Ini seperti sebuah pernyataan tak langsung bahwa kami ini kurang hiburan mungkin.  Padahal sih emang iya 😋😋

Padahal ya, kalau mau jujur, nggak setiap Jumat loh dompet kami berisi.  Berisi sih mungkin iya, isi bon dan nota tagihan.  Tapi berisi lembaran merah dan biru itulah yang belum tentu.  Tapi karena niat yang teguh dan kesungguhan untuk tetap bisa keluar dari lingkup kantor yang membosankan, menjadikan kami emak-emak bonek.  Nggak ada mobil kantor ya menghilang pakai mercy warna biru-biru atau merah yang biasa lalu lalang dekat kantor.  Cuman bayar Rp6.000 PP sudah sampai pula ke tempat tujuan dengan kecepatan ala Schumacher.  

Di mall pun kayaknya nggak cetar2 amat juga. Bisa dilihat dari kode penampakkannya pas pesan makanan.  Kalau tanggal muda tak satupun yang menengok harga.  Kalau tanggal tua semua berebut melihat daftar menu mana yang menawarkan potongan alias promo.  Dan kalau mau jujur lagi, mau tanggal tua mau tanggal muda nggak ada bedanya.  Tetap ke mall, cari diskonan dan hepi2 sampai waktunya kembali ke kantor lagi.

Jumat, selalu punya cerita.  Tentang kebaikan, tentang keburukan.  Tentang ketulusan, tentang kemunafikan.  Tentang kerendahatian, tentang kesombongan.  Itu adalah salah satu hari, di mana aku bisa belajar tentang hidup.  Belajar mengenal orang2 di sekitar.  Membaca setiap perwatakan tanpa ketara.  Bahwa yang tampak di muka belum tentu seperti yang tersimpan sejatinya.  Bahwa yang terlihat di luar, tidak menjamin seperti itu pulalah di dalam.  Tawa, cerita, adalah sebagian dari pelengkap penderita, di mana engkau bisa mempelajari karakter seseorang sebagai bahan pembelajaran diri sendiri.  Dan bisa jadi, hari Jumat akan tetap menjadi hari yang mengangenkan sekaligus menjemukan, sampai suatu hari nanti, aku tidak bisa menikmatinya lagi.
Martina Felesia
Bagi saya, kepercayaan itu sangat penting.  Ketika orang lain percaya kepada saya, sebisa mungkin saya akan berjuang untuk menjaga kepercayaan itu.  Begitu juga sebaliknya.  Ketika saya percaya kepada orang lain, itu artinya saya juga punya harapan, bahwa orang tersebut memang sungguh bisa saya percaya.

Meskipun demikian, saya tidak suka memaksakan diri supaya orang lain percaya kepada saya.  Ketika dengan segala upaya saya merasa telah berusaha menunjukkan diri sebagai pribadi yang bisa dipercaya dan ternyata orang tersebut tetap tidak percaya ya mau apalagi.  Bagi saya bodoh sekali jika saya tetap memaksakan diri supaya orang itu menaruh kepercayaan kepada saya sementara pada kenyataannya tidaklah demikian adanya.
 
Menilik kejadian yang terjadi dan menimpa hidup saya akhir-akhir ini, ada satu hal yang bisa saya pelajari.  Bahwa tidak semua yang bermulut manis, bertampang menarik, bertutur kata sopan, lemah lembut dan penuh dengan 'drama' itu adalah orang yang bisa dipercaya.  Pengalaman membuktikan bahwa orang-orang yang demikian ternyata hobinya menikam dari belakang.  Di depan kita manis tapi di belakang kita menghunus pedang.  Kalau pas kena, aduh, sakitnya sungguh luar biasa.
 
Bagi saya, semua pengalaman, akan saya jadikan pelajaran.  Jangan mudah percaya terhadap seseorang!  Ketika engkau terlalu berharap dan hasilnya di luar dugaan, semua itu akan sungguh menyakitkan.  Terkadang, seseorang yang kau anggap musuh, mungkin lebih bisa menghargaimu daripada orang yang kau anggap teman! Seseorang yang kau anggap teman bisa jadi adalah orang pertama yang ingin mematikan hidupmu!  So, be careful!
 
Apakah saya sakit hati?  Jelas! Apakah saya menyerah?  Tentu saja tidak.  Hidup harus tetap berjalan.  Sakit hati tidak akan menyelesaikan persoalan.  Mungkin akan ada proses 'mengenali' lebih dalam siapa kawan siapa lawan.  Belajar untuk menerima segala kepahitan dengan hati yang lapang dada meskipun susahnya luar biasa.

Dalam hal ini, saya ucapkan terima kasih kepada semua orang, yang membuat saya makin menyadari bahwa kepercayaan itu mahal.  Yang membuat saya semakin bisa memahami bahwa tidak semua kebaikan itu adalah kebaikan. 
Martina Felesia
Sudah hampir tiga minggu ini ada yang nggak beres dengan kepala dan leher saya.  Rasanya sakit banget.  Kalau orang Jawa Timur bilang suakiiiiittt banget.  Dipakai noleh ke kanan sakit, dipakai noleh ke kiri apalgi.  Sudah tiga kali ganti dokter diagnosanya sama saja.  Salah posisi tidur!  Boso londonya 'kecethit".

"Pernah jatuh?" tanya pak dokter.

"Belum! Eh, tidak pernah!" saya menjawab sekaligus mengoreksi.

"Ooooo.." Ureg-ureg resep.

 "Sudah dok? Gitu saja?" saya bertanya setengah takjub.

"Pergi ambil obatnya di apotik ya."

"Oh, ok!" saya pun ngeloyor keluar.  Sambil menghafalkan jenis obatnya kok ternyata mirip-mirip juga dengan obat dari dokter sebelumnya.  Jangan-jangan sodaraan nih obat.  Tuh kan, saya mulai melantur.

Pas sakit begini terus terang saya baru sadar pentingnya sehat.  Ini baru sakit leher loh, sudah bikin repot.  Apalagi sakit yang lain.  Kalau bisa saya mohon kepada Tuhan supaya dijauhkan dari penyakit aneh-aneh.  Saya nggak sanggup menanggungnya.  

Sebenarnya, beberapa bulan ini saya sudah merintis gaya hidup sehat dengan ikut olah raga.  Jogging!  Ini jenis olah raga yang murah, meriah, tapi bikin gembira.  Setiap sore sepulang kerja saya ada grup jogging di kantor.  Nggak setiap sore ding, hanya hari Selasa dan Kamis.  Tapi kalau rutin sebenarnya bisa lumayan juga untuk kesehatan.  Minimal badan kita bergerak.  Selain untuk kesehatan juga untuk mengantisipasi melebarnya lemak kemana-mana.  

Gara-gara kecethit kegiatan jogging saya jadi terkendala.  Jangankan jogging.   Bawa kepala sendiri saja rasanya berat sekali.  Habis minum obat nyerinya memang hilang.  Tapi bikin mata jadi ngantuk.  Sementara sudah jelas aturannya:  Dilarang tidur di kantor sengantuk apapun anda! Tersiksa banget pokoknya.  Masak mau ambil MC terus.  Mana mau dokternya ngasih?

Tapi seperti biasa, di balik peliknya masalah yang menimpa akan selalu ada himahnya.  Karena sakit ini, saya jadi lebih bisa mengontrol diri.  Menjaga supaya nggak marah, nggak neriakin anak-anak di rumah, dan nggak kenceng-kenceng lagi ngomongnya.  Orang di kantor hepi, anak-anak di rumah juga hepi.  Everybody is happy!  Saya pun jadi sering-sering menyebut nama Tuhan.  Mengeluh sekaligus mengadu.  Ah....kurang ajarnya saya.  Mencari Tuhan kalau pas kesakitan saja.  

Hari ini, tepat di hari Kartini 21 April 2018, saya tegaskan sekali lagi "Ayo olah raga, rek! Mumpung belum terlambat sama sekali".
Martina Felesia
Beberapa hari ini hujan selalu datang pada pagi hari.  Tanpa aba-aba, tanpa tanda-tanda.  Tiba-tiba saja datang menderai berselang-seling dengan suara angin.  Terkadang rumah pun tempias dan airnya merembes masuk di tembok rumah.  Hal yang biasa tetapi terkadang membuat naik darah.  Apalagi jika datangnya pada saat hari kerja dan bukan pada saat libur akhir pekan.  Membayangkan berangkat kerja saja malas, apalagi harus terjebak dalam kepadatan dan kemacetan.

Dua hari yang lalu lebih parah lagi.  Hujan yang berkunjung tak sampai satu jam, hampir menenggelamkan seluruh kota.  Parit dan selokan yang serba mini tak mampu menampung luapan air.  Jalanan tergenang, kampung-kampung dan perumahan tak luput dari terjangan air dan lumpur selokan.  Jika parit dan selokan meluap, bisa jadi bukan hanya karena bentuknya yang sempit.  Kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya adalah penyakit yang mengakibatkan banjir di mana-mana.  Tak kalah peliknya adalah kebiasaan melibas pepohonan tanpa berminat untuk melakukan penanaman ulang.  Mungkin orang-orang seperti ini seharusnya dipindahkan saja ke planet Mars.  Atau kalau perlu disekolahkan lagi supaya menjadi sedikit lebih pintar.

Hujan bagi sebagian orang, mungkin adalah musibah.  Tetapi bagiku, warna dan suaranya selalu menyisakan kenangan.  Memandang hujan adalah memandang jauh ke dalam lubuk hati, berbicara tentang banyak rasa dan pengharapan.  Di antara bulir-bulirnya selalu ada keindahan.  Meskipun ia diturunkan dari langit yang kelam, terkadang didahului kilat dan petir menggelegar, ia akan tetap berwarna bening dan menyejukkan.  Bahkan sesudahnya, ia mampu menampilkan pelangi, tangga para bidadari yang turun dari surga.
 
Memandang hujan seperti memandang kehidupan.  Hidup tidak selalu hitam atau putih.  Terkadang ia berwarna biru atau kelabu.  Terkadang juga ia bisa jadi merah, hijau atau kuning.  Pandanglah saja.  Hanya perlu memandang.   Dan tiba-tiba engkau akan menemukan kesadaran, bahwa hidup ini indah.  Sangat indah.  Jadi tak perlu berkutat dengan kesedihan terlalu lama.  Pandanglah hujan, dan hatimu akan meluap dalam kegembiraan.

Hujan dan aku, adalah teman lama, yang selalu diperbaharui dalam rasa.
Martina Felesia
Judulnya saya lagi bosan.  Bosan melakukan apa saja, bosan memikirkan apa saja.  Bahkan yang lebih menyedihkan, kadang terpercik satu rasa: bosan dengan hidup saya!  Saya hanya merasa, alangkah baiknya kalau kita tidak perlu memikirkan apa-apa, tidak perlu melakukan apa-apa.  Hanya diam dan hening.  Hanya memandang dan menikmati.  Semacam meditasi atau kontemplasi.

Tapi ternyata tidak melakukan apa-apa itu juga sama membosankannya dengan melakukan apa-apa. Padahal saya sudah memperbanyak jam tidur, sudah  berusaha mengurangi berbagai aktifitas dan berusaha mengurangi banyak berkata-kata.  Tidak melakukan apa-apa ternyata lebih menyakitkan daripada melakukan apa-apa.  Kepala terasa berat, otak menjadi stagnan di tempat.  Banyak hal yang biasanya 'mencerahkan' pemikiran lewat begitu saja.  Tidak saya respon atau pun saya tolak.  Semua hanyalah frase kosong semata.

Setiap kali merasa bosan saya hanya diam.  Benar-benar diam.  Mencoba untuk memahami arah kebosanan ini.  Mencoba mencari di bagian mana saya mesti berhenti.  Berhenti untuk sejenak beristirahat dan introspeksi diri.  Apa sih yang membuat kebosanan ini datang?  Adakah sesuatu yang salah dengan hidup yang itu-itu saja?

Dan ini adalah kali ke sekian ketika rasa bosan itu datang bergulung-gulung, menerjang laksana gelombang.  Sebenarnya bukan rasa bosan itu masalahnya.  Yang menjadi masalah adalah ketika saya mulai kehilangan rasa.  Kehilangan cara pandang.  Kemampuan memandang kehidupan dengan cara yang berbeda.  Cara pandang yang perlahan terkikis habis oleh ketiadaan waktu, membuat saya tidak bisa lagi memandang hidup ini sebagai sesuatu yang indah.  Sesuatu yang senantiasa membawa harapan.  Sesuatu yang sudah lama saya lupakan.  

Bisa jadi rasa bosan ini akan menjadi pembelajaran tersendiri dalam hidup yang serba singkat. Menjadi permenungan pribadi untuk menjadi manusia yang seharusnya.  Belajar lagi menikmati hidup.  Menjadikannya lebih indah dan bermakna.  Dan semoga dalam keheningan, segenap luka dan kepedihan akan disembuhkan.
Martina Felesia
Seorang teman pernah ditolak membeli baterai jam tangan di suatu toko jam terkenal ketika ia sedang berlibur di suatu kota.  Alasannya sepele:  dandanan teman saya ini terlalu mbois dan tidak mencermikan ketajiran sama sekali.  Berkaos oblong, bersandal jepit dan bercelana jeans.  Tentengannya tas selempang.  Si Penjual macam tidak percaya ketika teman saya tadi meminta baterai jam sesuai dengan merk yang dia inginkan.  Penjualnya hanya berkata, "Baterai yang itu tidak ada Bu.  Ada sih baterei yang lain, tapi mahal harganya!"

Teman saya ini, meskipun statusnya seorang pendidik, mau tidak mau jadi esmosi juga melihat si Penjual yang tidak menghargai pelanggannya sama sekali.  Mulutnya pun langsung nyolot, "Mahal itu berapa???  Mau mahal mau nggak, pasti ada tarifnya, kan???"

Si Penjual, mungkin karena diperhatikan oleh banyak mata, mau tidak mau akhirnya mengambil juga baterai jam yang disebutkannya tadi.  Tanpa ba bi bu lagi, teman saya mengambil dua kali lipat dari yang biasa dibutuhkannya.  Sewaktu hendak memasang baterai ke jam tangan, barulah mata si Penjual terbuka.  Ia baru menyadari bahwa jam tangan teman saya tadi terbuat dari lapisan emas murni, hanya bisa dibeli dalam istilah 'limited edition' dan harus dipesan secara khusus.  Langsung saja kesombongannya merosot macam karung beras kosong.

Waktu menceritakan pengalamannya ini, teman saya itu masih juga terbawa emosi dan saya terbawa  imajinasi sambil ngekek membayangkan ekspresi wajahnya ketika dipleroki oleh si Penjual jam tangan tadi.  Dalam hal ini saya hanya bisa menasehati, "Yo wes.....lain kali kalau lagi kluyuran ke kota lain itu, ya berdandanlah yang cantik, manis dan tajir.  Mosok duitnya milyaran tampilannya macam bekpeker....hahahaha!!"

"Semprul kowe......!!" mulutnya makin manyun.

Dalam hidup ini, menilai seorang dari tampilan luar itu sudah menjadi hal yang biasa.   Dengan mudahnya orang memberikan penilaian dan penghakiman terhadap orang lain.  Yang berpenampilan tidak sesuai dengan yang di'harapkan'nya otomatis mendapatkan penilaian yang rendah.  Tetapi jika ada orang yang berpenampilan sesuai yang di'inginkan'nya otomatis orang tersebut akan terlihat hebat.  Tidak peduli bahwa pada akhirnya orang tersebut ternyata bego atau tulalit tidak masalah, yang penting sudah sesuai harapan.

Sebagai orang Jawa, saya dibiasakan untuk memanggil orang yang baru dikenal dengan sebutan Mas, Mbak, Bapak atau Ibu. Meskipun orang tersebut lebih muda, saya akan memanggilnya dengan Mas atau Mbak.  Bukan karena saya tidak menghargainya atau menganggapnya lebih tua dari saya.  Tetapi itu adalah sebagai bentuk penghormatan karena saya baru mengenalnya.  Dengan tidak menyebut namanya secara langsung, saya sudah menempatkan orang tersebut sebagai seseorang yang harus dihormati. Tidak peduli tampilannya seperti apa, penghargaan dan penghormatan harus tetap diberikan.

Saya sungguh sangat beruntung karena dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan untuk tidak gampang menilai orang lain dari tampilan luar.  Sejak kecil saya dibebaskan untuk mengenal dan berkawan dengan banyak orang tanpa melihat penampilan, apalagi suku atau agamanya.  Menurut Bapak saya, setiap orang, siapapun  mereka,  berhak mendapatkan penghormatan dan penghargaan.  Tidak peduli dia seorang tukang becak atau tukang nyopiri pesawat terbang, mereka tetaplah seorang manusia.  Kaya atau miskin, itu hanyalah pelengkap.  Yang paling utama adalah,bagaimana engkau memperlakukan orang lain, manusia lain, sama seperti engkau ingin diperlakukan oleh mereka.

Respect each others!  Adalah cara supaya kita tidak gampang melakukan penilaian dan penghakiman, tanpa mau melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut.  Semoga kita menjadi manusia yang tidak pernah berhenti belajar, bahwa kita hidup tidak sendiri.  Jadi, jangan mau menang sendiri.  Penghakiman yang diberikan kepada orang lain, akan diberikan juga kepada kita pada akhirnya.